Home Tentang Kami Hubungi Kami Links FAQ Forum
Follow Us


JADWAL DIKLAT
Tuesday, December 13, 2016
Program LPPI tahun 2017 didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan...
KIPRAH
Friday, August 19, 2016
Dalam sambutannya pada upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17...
LIPUTAN KEGIATAN
Monday, March 27, 2017
Selama satu hari, tanggal 27 Maret 2017, dua BPR yaitu...
Friday, March 24, 2017
Sebanyak 30 orang pegawai BPR dari 12 BPR berbagai daerah...
Wednesday, March 22, 2017
Penyaluran kredit merupakan aktivitas bisnis guna memperoleh pendapatan yang positif...
Wednesday, August 31, 2016
Seiring dengan pelaksanaan pelatihan dasar-dasar audit dan audit teknologi informasi...
 
DARI KAMI
Selamat Datang Bankir Indonesia di Masyarakat Ekonomi ASEAN

Assalaamu’alaykum wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. 

Pemberlakuan pasar bebas ASEAN sampai juga pada saatnya. 1 Januari 2016 Indonesia memasuki era baru dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA terlahir dari ide para pemimpin ASEAN Desember 1997 silam untuk membentuk pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian agar daya saing ASEAN meningkat dan utamanya dapat menandingi Cina dan India dalam menarik investasi luar. Akibatnya kran arus perdagangan dan arus tenaga kerja terbuka lebar dan akan mengalir bebas di kawasan ASEAN. 

Tantangan terberat MEA untuk ketenagakerjaan adalah komitmen memberikan kesempatan bagi pekerja asing yang ingin masuk dan bekerja di Indonesia sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki. Mau tidak mau hal ini akan menimbulkan persaingan bagi tenaga kerja Indonesia di bursa tenaga kerja yang akan mempengaruhi kesempatan karir. Masuknya tenaga kerja asing akan mengurangi peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia dalam negeri. Dari hasil survey yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF), untuk tahun 2015 Indonesia berada di ranking 37 dari 140 negara dalam Global Competitiveness Report 2015 – 2016 kalah dari Singapura, Malaysia dan Thailand walau masih unggul dari Filipina, Vietnam, Laos, Kamboja dan Myanmar. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya Indonesia telah turun 3 peringkat dari sebelumnya yang berada di posisi 34. 

Indonesia sebagai negara yang kaya akan tenaga kerja akankah mampu bersaing dengan negara-negara tetangga? Apakah mutu pendidikan tenaga kerja Indonesia telah cukup mumpuni membekali tenaga kerja Indonesia? 

Berbagai upaya peningkatan kompetensi kerja harus dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan kerja. Peran lembaga pelatihan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi pekerja lokal. Untuk mengendalikan banjirnya tenaga kerja asing, pemerintah Indonesia memberlakukan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) dan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) di semua sektor sebagai strategi kebijakan pemerintah menghadapi MEA di sektor ketenagakerjaan. Standarisasi kompetensi pekerja Indonesia mulai diterapkan secara menyeluruh agak tidak kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya. Standar kompetensi yang dibuat disesuaikan dengan kebutuhan industri dan pengguna tenaga kerja dan setara dengan standar kompetensi kerja dari negara lain atau standar internasional yang berlaku di banyak negara. 

Dikutip dari beritasatu.com, Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan bahwa modal utama dalam menghadapi MEA adalah produk-produk buatan Indonesia yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tenaga kerja yang memiliki Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Agustus 2015 lalu pemerintah telah menetapkan 482 SKKNI untuk untuk semua sektor, termasuk sektor finansial. Liberalisasi dan integrasi akan terjadi di pasar finansial termasuk didalamnya bank, asuransi, investasi dan lembaga finansial lainnya. Walau integrasi finansial secara resmi akan dilakukan pada tahun 2020, lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mempersiapkannya. Inilah yang menjadi tantangan bagi bankir Indonesia. 

Khusus untuk perbankan, Ikatan Bankir Indonesia (IBI) telah melakukan sertifikasi terhadap 9 bidang kompetensi antara lain funding and services, treasury dealer, operation, general banking, wealth management, risk management, compliance, internal audit, dan credit.

LPPI sebagai lembaga pengembangan perbankan di Indonesia menganggap penting kesiapan SDM perbankan menghadapi MEA. LPPI terus berupaya untuk turut serta mempersiapkan sumberdaya manusia yang profesional baik di industri keuangan bank dan non bank sehingga mampu bersaing dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebagai Center for Leadership and Ethics yang telah dikukuhkan tanggal 24 Mei 2014 oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia, LPPI berharap dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan perbankan yang merupakan salah satu unsur penting dalam ketahanan ekonomi negara. Komitmen LPPI diwujudkan dengan memberikan pelayanan yang terbaik bagi peningkatan kompetensi SDM dan penguatan kelembagaan industri keuangan melalui program pendidikan dan pelatihan serta konsultasi & asesmen, yang didasarkan pada hasil riset/penelitian. Untuk pengembangan SDM perbankan di daerah khususnya SDM Bank Pembangunan Daerah (BPD), LPPI berkomitmen mendukung peningkatan kualitas SDM BPD sebagai wujud dari pelaksanaan strategi Program Transformasi BPD yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo 26 Mei 2015. Tujuan Program Transformasi BPD ini  adalah agar BPD menjadi bank yang mampu bertahan menghadapi tekanan dan berdaya saing tinggi, serta kuat serta mampu berkontribusi secara signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan ekonomi daerah. 

LPPI sendiri terus menerus membangun kapasitas dirinya untuk menjadi “ASEAN Quality Financial Sector Training Institute”. LPPI tidak lagi bekerja sekedar “business as usual”, namun telah mempersiapkan dan membekali diri untuk membangun keunggulan intinya yang memiliki competitive advantage yang telah dituangkan dalam rencana strategis lembaga. Sebagai lembaga yang menjadi ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia di industri keuangan, LPPI berusaha membangun dirinya menjadi organisasi yang efektif dengan SDM yang memiliki nilai-nilai strategis agar mampu beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan zaman. Penyempurnaan juga secara kontinyu dilakukan dalam hal policy, product, system, business process dan people. Setiap insan LPPI didorong terus untuk berubah, berpikir yang lebih kreatif (out of the box), cara kerja yang lebih berdaya saing dengan lembaga lain serta bekerja berani mendobrak cara lama (complecancy). 

Jika kita mencontoh Jepang, barangkali konsep budaya Monozukuri dan Hitozukuri dapat kita tiru. Monozukuri berasal dari kata “mono” berarti produk atau barang, dan “zukuri” yang berarti proses pembuatan atau penciptaan. Hitozukuri berasal dari kata ‘hito” berarti manusia dan “zukuri” yang berarti proses pembuatan atau penciptaan. Monozukuri dan Hitozukuri mengandung makna industri yang kuat dan berdaya saing hanya mungkin tumbuh jika manusia bersumber daya ilmu dan teknologi, yang memiliki daya kreatif dan inovatif dijadikan pilar utama proses produksi barang dan jasa. Monozukuri dan Hitozukuri telah banyak diadopsi oleh lembaga-lembaga besar dan terbukti menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Jepang dalam membangun ekonomi dan masyarakatnya hingga sekarang. 

LPPI sebagai lembaga yang telah berusia lebih dari setengah abad yang berdiri tanggal 18 Desember 1958 memiliki banyak pengalaman serta wisdom untuk menjadi lembaga yang kuat, maju, berkembang dan bermakna bagi industri perbankan Indonesia. Perubahan dilakukan oleh LPPI secara bertahap melalui evaluasi untuk kesempurnaan. Dukungan dari otoritas atau regulator yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) menjadikan LPPI sebagai satu-satunya lembaga pengembangan SDM perbankan yang terpercaya dan memiliki value added untuk mitra-mitranya yakni perbankan dan industri keuangan non bank. 

Terakhir, LPPI telah melengkapi dirinya dengan sistem manajemen penjaminan mutu terhadap produk dan jasa untuk seluruh mitranya dengan perolehan sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 yang akan segera diperbaharui dengan SMM ISO 9001:2015. Dengan sistem manajemen mutu ini LPPI memberi jaminan bahwa kualitas produk dan mutu produk yang dihasilkan konsisten memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Harapannya setiap lulusan peserta didik dari LPPI memiliki standar pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memenuhi kompetensi sebagaimana visi dan misi LPPI yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia perbankan dan jasa Keuangan melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap (knowledge, skill, attitude) dan mendukung pengembangan industri perbankan yang sehat dan berkualitas. Tujuan akhir dari semua upaya yang dilakukan LPPI adalah memberikan yang terbaik bagi sumber daya manusia perbankan Indonesia agar tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selamat datang Masyarakat Ekonomi ASEAN. 

Terima kasih.

Wasalamu’alaykum wr.wb.

 

Hartadi A. Sarwono

  Direktur Utama