Home Tentang Kami Hubungi Kami Links FAQ Forum
Follow Us


Konsultasi
Pertanyaan :
Yth. Bpk. Subarjo, Saya selaku pengelola perusahaan yang bergerak dibidang Pembangkit Tenaga Listrik. Perusahaan kami mendapatkan fasilitas kredit untuk pembiayaan proyek-proyek yang kami kelola dari salah satu prime bank di london dalam bentuk SBLC ataupun Promissory Note senilai USD.5.000.000,0. Bagaimana langkah kami agar pembiayaan dimaksud dapat kami pergunakan untuk pelaksanaan proyek-proyek di Indonesia. Terima kasih sebelumnya atas informasi yang diberikan. Salam, HERU SOETOPO
Oleh : HERU SOETOPO
Email : heru@engineering.asp.com
Jawaban :

Yth. Heru Soetopo,

SBLC ataupun promissory notes merupakan dua jenis instrumen dalam perbankan yang berbeda satu sama lain, dan mempunyai mempunyai aturan main (rules) atau acuan yang berbeda-beda tergantung kepada pihak penerbit maupun penerimanya. SBLC adalah semacam bank garansi yang antara lain mengacu kepada UCPDC 600 (2007) atau kepada ISP 98 (1999). Syarat dan ketentuan yang tercantum di dalam instrumen tersebut berdasarkan kontrak yang mendasarinya (underlying transaction). Bank-bank di Indonesia memberikan pinjaman tidak hanya berdasarkan instrumen ini saja tetapi juga melakukan analisis lainnya sesuai SOP perkreditan yang berlaku di bank masing-masing. Umumnya SBLC hanya menjadi pelengkap atau sebagai garansi kalau peminjam default maka bank akan klaim kepada penerbit SBLC tersebut. Sebelum SBLC diterbitkan, antara bank penerbit dan penerima SBLC biasanya melakukan komunikasi terlebih dahulu dan mereka merupakan bank-bank yang sudah ada dalam jaringan bank-bank koresponden yang masing-masing sudah dianalisa kelayakan (rating)-nya.

Promissory note adalah instrumen “pengakuan hutang/ janji bayar” yang jelas tercantum di dalamnya pihak-pihak yang mengaku hutang, yang mempunyai piutang, nominalnya, jangka waktu, dan sebagainya. Instrumen ini bukan merupakan alat pembayaran, hanya “pengakuan hutang”, jadi tidak bisa menjadi jaminan bagi bank untuk memberikan pinjaman karena tidak ada akses langsung bagi bank untuk mengklaim instrumen tersebut.

 Sebaiknya kita harus berhati-hati bertransaksi dengan instrumen-instrumen di atas, karena banyak beredar di pasar atau dijumpai dalam transaksi sehari-hari tetapi diragukan keabsahannya dan menjadi alat dalam berbagai modus penipuan. Biasanya si pembawa instrumen minta dana untuk mencairkan dana SBLC atau promes tersebut. Sebelum melakukan pembayaran apapun, coba dicek terlebih dahulu keabsahan instrumen tersebut ke bank Anda.

 Jika akan memperoleh pinjaman dari luar negeri, sebaiknya direncanakan dari awal dengan bank Anda di Indonesia, sehingga dapat dicari instrumen yang tepat sebagai solusi pendanaan proyek tersebut.

Demikian. Semoga membantu. Terimakasih.

- Elis Mudjiwati, LPPI Faculty Member, Commissioner of PT. Profesindo, Banking Freelance Consultant, Banking Practitioner -