• slider-image
    Program SESPIBANK®
    Program SESPIBANK® merupakan jenjang tertinggi pendidikan profesi perbankan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi manajerial
    • dan kepemimpinan bagi bankir senior profesional sebagai salah satu syarat untuk menduduki posisi puncak.
      Program bersifat strategis, sistematis, integratif dan fokus. Program SESPIBANK® ini telah dilengkapi dengan Sertifikasi General Banking Tingkat 3.
  • slider-image
    Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia
    Menjadi lembaga pengembangan perbankan dan jasa keuangan yang terpercaya dan terkemuka
    di tanah air, serta mendapat pengakuan internasional
  • slider-image
    Diklat Pemimpin Cabang 188

    Pendidikan dan Pelatihan pemimpin Cabang dilaksananakan 3 kali dalam setahun dengan durasi 5 minggu. 

  • slider-image
    Pendidikan Perbankan Indonesia

    LPPI menghadirkan Pendidikan Perbankan Terbaik di Indonesia

Program Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia  menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan, riset, konsultasi dan assessment. Selain itu secara berkala menyelenggarakan seminar, workshop dan refreshment program dengan tema-tema yang sesuai dengan perkembangan serta teknologi terkini yang terjadi pada industri perbankan dan jasa keuangan.

Dengan menggunakan pembicara dan fasilitator dari berbagai latar belakang, regulator maupun praktisi, dan profesional serta pakar di bidangnya yang dikenal luas di kancah nasional dan internasional.

LPPI telah memiliki pengalaman mengembangkan SDM profesional dan berkualitas dibidang perbankan dan layanan jasa keuangan sejak tahun 1958, yang mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap sistem keuangan dan pembayaran di Indonesia yang berdampak pada stabilitas system keuangan nasional. . 

.

 

 

Tantangan dan Peluang Pengembangan Industri Perbankan-Keuangan Pada Tahun 2018

Ketika ekonomi dunia semakin terintegrasi. Kondisi apapun yang terjadi pada satu kawasan akan berdampak pada ekonomi domestik sebuah negara. Seperti yang terjadi saat ini, pemulihan ekonomi global masih berlangsung lambat dan tidak merata. Salah satunya dipicu oleh perekonomian Amerika Serikat yang masih tumbuh lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Namun di Eropa dan India terjadi sebaliknya, pertumbuhan diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Sementara di dalam negeri, untuk 2018, pemerintah telah menetapkan asumsi dasar ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018. Mulai dari target pertumbuhan ekonomi ‎5,4 % hingga nilai tukar rupiah yang dipatok Rp 13,500 per US dollar. Rancangan tersebut disusun berpedoman pada 3 (tiga) kebijakan utama‎.‎

Pertama, mendorong optimalisasi pendapatan negara melalui peningkatan rasio pajak serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam dan aset negara.

Kedua, melakukan penguatan kualitas belanja negara melalui peningkatan kualitas belanja modal yang produktif, efisiensi belanja non-prioritas seperti belanja barang dan subsidi yang harus tepat sasaran, sinergi antara program perlindungan sosial, menjaga dan refocusing anggaran prioritas seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta penguatan kualitas desentralisasi fiskal untuk pengurangan kesenjangan dan perbaikan pelayanan publik.

Ketiga, kebijakan keberlanjutan dan efisiensi pembiayaan, yang dilakukan melalui pengendalian defisit dan rasio utang, defisit keseimbangan primer yang semakin menurun, dan pengembangan creative financing, seperti melalui skema kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha atau KPBU.

Berdasarkan hasil riset proyeksi ekonomi Indonesia yang dilakukan LPPI disebutkan, bahwa perekonomian domestik akan semakin membaik dengan pertumbuhan ekonomi semakin meningkat, kurs relatif stabil, defisit neraca transaksi berjalan tetap terkendali, laju inflasi yang cenderung menurun serta suku bunga simpanan dan pinjaman dengan tren menurun.

Seiring dengan kinerja perekonomian dunia dan domestik yang diproyeksikan makin membaik, maka prospek pasar modal diproyeksikan juga tetap baik. Prospek tersebut semakin menarik setelah Indonesia memperoleh status investment grade dari lembaga rating Standard and Poors (S&P). Dengan status ini akan mendongkrak iklim investasi dan berpeluang meningkatkan capital inflow (portofolio maupun FDI).

Untuk kondisi perbankan nasional pada 2018, berdasarkan hasil riset LPPI, suku bunga kredit perbankan pada tahun depan berpotensi lebih rendah dibanding tahun 2017. Net Interest Margin (NIM) rata-rata perbankan memang masih tinggi, dan menjadi tumpuan pertumbuhan nasional dikarenakan penurunan reverse repo akan semakin sulit pada masa mendatang. Dengan mengasumsikan pertumbuhan kredit pada tahun 2017 sebesar 12.9 %, maka tahun depan ada harapan pertumbuhan ekonomi lebih baik dengan suku bunga lebih rendah.

Level NIM perbankan nasional saat ini berada di level 5,3 %, lebih tinggi dibandingkan dengan negara kawasan, sehingga tidak kompatibel dengan usaha mendorong ekonomi nasional.

Dari sisi rentabilitas, LPPI melihat rata-rata tingkat efisiensi bank atau BOPO sebesar 82,5 %, namun masih ada sekitar 25 bank konvensional (20%) yang masih beroperasi dengan efisiensi yang rendah (BOPO > 90%).

Sementara dari sisi permodalan, rata-rata rasio CAR perbankan berada pada level 20,32%. Meskipun tren CAR industri membaik, hampir separuh bank beroperasi dengan CAR di bawah rata-rata industri. Rasio kredit bermasalah perbankan saat ini juga mulai mengalami perbaikan, meskipun ada beberapa bank konvensional yang beroperasi dengan NPL > 2 %.

 Meskipun pertumbuhan ekonomi tahun 2017 terbatas namun industri perbankan tetap memiliki ketahanan yang kuat karena terjaganya risiko kredit, kecukupan modal yang kuat dan likuiditas yang memadai. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, perkembangan teknologi digital pada industri perbankan-keuangan. Kemajuan teknologi generasi keempat ini telah mengubah perilaku pasar dan konsumen.

Dari sini juga muncul beragam inovasi teknologi baru dengan platform berbasis cloud (mobile-based electronic wallet) dan blockchain (teknologi basis data terdistribusi) yang diadopsi oleh perusahaan dengan lini bisnis teknologi keuangan (fintech) dan perusahaan telekomunikasi dalam rangka memberikan layanan keuangan yang lebih mudah bagi masyarakat.

Berdasarkan survei yang dilakukan Pricewaterhouse Coopers (PwC) kepada industri perbankan-keuangan pada 2017 di 46 negara, mayoritas dari perusahaan tersebut mengakui pentingnya penggunaan teknologi baru ini. Walaupun, perusahaan-perusahaan tersebut masih ragu mengadopsinya.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, teknologi dan konsumen digital mengalami pertumbuhan yang pesat, sehingga mau tidak mau perusahaan perbankan dan layanan jasa  keuangan harus beradaptasi dengan perkembangan ini.  

Penguasaan dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi telah menjadi perhatian khusus hampir semua perusahaan yang bergerak di sektor perbankan-keuangan. Karena dengan kekuatan infrastruktur teknologi, kegiatan operasional perusahaan menjadi semakin efisien, lebih mudah dijangkau (accessability) dan digunakan (users friendly).

Dengan teknologi, proses pengajuan kredit pun menjadi lebih singkat, namun tetap sesuai dengan batas-batas risiko. Selain itu, kualitas pelayanan kepada konsumen menjadi lebih baik, mulai dari memindahkan data dari formulir aplikasi ke dalam sistem (data entry), analisis data calon nasabah (credit analysis), hingga card delivery. Sehingga biaya operasional dapat ditekan hingga 60% per-aplikasi.

 

LIPUTAN KEGIATAN

image
10 Jul

Executive Risk Management Refreshment Program

Dalam rangka melakukan pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko bagi Eksekutif Perbankan, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia telah melaksanakan Executive Risk Management Refreshment Progam pada tanggal 2 – 9 Juli 2018. Program tersebut diikuti oleh 24 peserta dari 12 Instansi. Program ... (Selengkapnya)
image
06 Jun

Pelatihan Treasurer BRI

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) bekerjasama dengan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., mengadakan kerjasama program Pelatihan Treasurer Development Program pada tanggal 21 s.d. 28 Mei 2018 dengan jumlah peserta sebanyak 16 orang. Program ini bertujuan memberikan pemahaman dan ... (Selengkapnya)
image
09 May

Workshop Understanding The Regulation of Fintech

LPPI bekerjasama dengan PT. Bank CIMB Niaga, Tbk melaksanakan Workshop Understanding The Regulation of Financial Technology pada hari Rabu, 9 Mei 2018 yang bertempat di Kantor Pusat PT. Bank CIMB Niaga, Tbk. Workshop diikuti oleh pagawai PT. Bank CIMB Niaga, Tbk dan para Debitur dengan jumlah 80 ... (Selengkapnya)

 

BERITA TERBARU

image
28 Jun

Workshop Snapshot Perekonomian dan Perbankan Indonesia

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kesatuan Bogor mengadakan Program Workshop Perbankan untuk para Mahasiswa Program Studi Keuangan dan Perbankan D3 STIE Kesatuan Bogor. Program Workshop Perbankan dilaksanakan di Kampus STIE ... (Selengkapnya)
image
06 Jun

Kerjasama dengan STIE Kesatuan

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kesatuan Bogor mengadakan Program Workshop Snapshot Perekonomian dan Perbankan Indonesi untuk para Dosen-dosen STIE Kesatuan Bogor. Program Workshop Snapshot Perekonomian dan Perbankan Indonesia ... (Selengkapnya)
image
06 Jun

Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) bersama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Kautsar Kampus Bumi LPPI pada Senin, 4 Juni 2018 telah melaksanakan Kegiatan Santunan Anak Yatim, Yatim Piatu, Anak dari Keluarga Prasejahtera dan Buka Puasa Bersama di Gedung Serba Guna LPPI. ... (Selengkapnya)

Otoritas

  •  
  •