Home Tentang Kami Hubungi Kami Links FAQ Forum
Follow Us


JADWAL DIKLAT
Tuesday, December 13, 2016
Program LPPI tahun 2017 didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan...
KIPRAH
Friday, August 19, 2016
Dalam sambutannya pada upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17...
LIPUTAN KEGIATAN
Monday, March 27, 2017
Selama satu hari, tanggal 27 Maret 2017, dua BPR yaitu...
Friday, March 24, 2017
Sebanyak 30 orang pegawai BPR dari 12 BPR berbagai daerah...
Wednesday, March 22, 2017
Penyaluran kredit merupakan aktivitas bisnis guna memperoleh pendapatan yang positif...
Wednesday, August 31, 2016
Seiring dengan pelaksanaan pelatihan dasar-dasar audit dan audit teknologi informasi...
 
Perbankan Syariah Indonesia Tertinggal dari Malaysia
Friday, October 5, 2012 | Admin

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat keuangan Syakir Sula menganggap bahwa industri perbankan syariah di Indonesia jauh tertinggal dibanding Malaysia. Perbankan tanah air harus segera membenahi untuk mengejar ketertinggalannya.

"Ketertinggalan itu bisa dilihat dari pangsa pasar dan pertumbuhan industri perbankan syariahnya," kata Syakir dalam acara Sharia Finance Awards di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (4/10/2012).

Hingga saat ini, pangsa pasar perbankan syariah tanah air hanya sebesar 3,8 persen. Sementara pangsa pasar perbankan itu di Malaysia sudah mencapai 20 persen. Begitu juga terkait produk. Pangsa pasar penerbitan surat utang syariah (sukuk) di Malaysia sudah mencapai 70 persen. Sementara penerbitan sukuk di tanah air hanya mencapai 7 persen.

"Industri perbankan syariah di Malaysia memang lahir 10 tahun lebih dulu dari kita. Kita baru ada bank syariah sejak 1993. Namun selisihnya sangat jauh," kata Syakir.

Apalagi dilihat dari pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah per tahun, Indonesia juga mengalami kenaikan yang cukup lambat. Mulai dari 2 persen di 2010, 2,5 persen di 2011 dan 3,8 persen di semester I-2012.

Untuk bisa mengejar ketertinggalan tersebut, Syakir mengusulkan agar membenahi perbankan syariah dari sisi SDM, regulasi, institusi, supervisi dan teknologi. Khusus SDM, saat ini sangat minim SDM perbankan syariah yang mumpuni, meski lembaga pendidikan keuangan syariah juga mulai marak.

Dari sisi regulasi, pemerintah harus memberikan keberpihakan khususnya ke bank syariah agar lebih mudah untuk tumbuh. Salah satunya dengan penempatan dana haji di bank syariah.

Dari institusi sendiri juga harus memberikan produk-produk keuangan syariah yang kreatif. Perbankan syariah jangan hanya copy paste produk di perbankan konvensional. Dari sisi teknologi, perbankan syariah harus memperluas jaringan kantor cabang dan memperkuat bisnis IT dan infrastukturnya. Apalagi bila mampu disinergikan dengan induk ban konvensionalnya.

"Selain itu, masyarakat juga harus diberikan pemahaman tentang bank syariah secara menyeluruh. Ini untuk mempercepat pertumbuhan bank syariah di tanah air," jelas Syakir.

 

Sumber: Didik Purwanto – Kompas.com

 

Comment(s)
No Comment

Reply
Name*
Email
Comment*
Confirmation*
Enter code above :

If you can't read code, click
  
*Field Required